Program PhD untuk Indonesia

Oleh Adi Indrayanto, staf pengajar di STEI ITB

Mikirin konsep apalagi yg rumit dan perlu terobosan itu memang salah satu tugasnya PhD. Tapi kalau sudah jadi kegiatan rutin, mustinya bukan PhD lagi. Sayang investasi yg sudah dikeluarkan utk menjadi PhD.

Dalam proses menjaid PhD kan mustinya kita belajar banyak hal selain tentunya kasus yg mau dicari solusinya atau terobosannya. Misal Critical Thinking, Falsafat Ilmu, Metoda Penelitian, Lateral and Out of The Box Thinking (to find some inovative or new ideas) Systematic Process, Penyusunan Arguments, among others.

Sekolahnya lama, biayanya mahal, ngabisin umur pula ;-) . Nah posisi para PhD adalah, mencari terobosan2 baru atau alternative solusi utk permasalahan yg dihadapi. Permasalahan tidak harus yg ada di dunia tapi mustinya ya yg ada di lokal.

Publikasi itu kan hanya salah satu media utk menyebarkan apa yg sudah ditemukan/dilakukan dan media berkomunikasi. Jadi jangan terjebak seolah-olah target akhir itu adalah publikasi. Itu salah kaprah. Bahwa setelah menemukan solusi harus disampaikan ke orang lain atau komunitas peneliti/pemerhati masalah yg sama itu betul.

Tapi menjadikan jumlah publikasi sebagai tolok ukur keberhasilan itu ya salah kaprah. Sebagai tolok ukur seberapa produktif bisa saja, walaupun tidak ada jaminan solusi2 yg diusulkan bisa berhasil digunakan ;-) Tapi target akhir adalah, solusi yg diusulkan terpakai di dunia nyata atau masyarakat. Itu ultimate goalnya ….

Memang ada kepercayaan yg berdasarkan statistik (kuantitatif), bahwa utk dapat menemukan 1 solusi yg brilliant dan tepat sasaran, di butuhkan banyak (ratusan, ribuan, jutaan) ideas solusi yg harus diusulkan ;-) . Makanya itu jumlah solusi yg dihasilkan harus sebanyak-banyak nya.

Tapi, utk negara berkembang yg masih miskin dgn infrastruktur science dan teknologi nya masih buruk, kemampuan menyerap ideas yg sudah tersebar di dunia dan menterjemahkannya ke ideas yg implementable di lokal (negara berkembang) jauh lebih penting dan urgent daripada ikut2an lempar idea ke dunia. Tidak salah sih, tapi jauh lebih penting menterjemahkan atau mencari the best ideas yg ada di dunia utk menjawab kebutuhan lokal dulu …. Artinya, kemampuan membaca papers dan jurnal yg rumit2 diperlukan, lalu menterjemahkan menjadi kesimpulan atau solusi yg dibutuhkan oleh masalah lokal. Karena di negara berkembang, ada gap yg masih sangat besar antara ideas – implementasi. Apalagi sebagai engineer di negara berkembang …. prioritasnya adalah make things (ideas) happening …

Program PhD Applied Science atau Doktor Engineering seharusnya lebih bermanfaat dan menjadi prioritas utk dijalankan di Indonesia.

Demikian KulTum pagi ini :-D

salam,

-ai-

Open-House Kelompok Keilmuan (KK) Elektronika

Elektronika telah menjadi pondasi di semua aspek kehidupan masyarakat modern pada era milenium. Penerapan elektronika sudah memasuki hampir memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat modern, mulai dari akses informasi global dan telekomunikasi media sampai kepada pengaturan dan pemakaian energi listrik dan energi migas di sektor ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan dan politik.

Oleh karena itu, pengenalan dan pemahaman mengenai elektronika sangat diperlukan bagi mahasiswa Teknik Elektro ITB. Maka, acara Open-House Kelompok Keilmuan (KK) Elektronika yang bertemakan “Enabling Technology with Electronics” ini diharapkan dapat meningkatkan animo mahasiswa untuk berkecimpung dalam bidang elektronika yang ke depannya diharapkan akan dapat memberikan kontribusi yang besar pada kemajuan teknologi bangsa.

Kegiatan Open House KK Elektronika STEI ITB ini ditujukan bagi mahasiswa STEI ITB, khususnya yang telah berada pada tingkat awal Teknik Elektro ITB, dalam rangka memperkenalkan bidang elektronika di Indonesia. Tujuan acara ini adalah untuk menumbuhkan minat mahasiswa Teknik Elektro ITB untuk mengembangkan teknologi di bidang elektronika. Secara garis besar acara ini dibagi menjadi tiga sesi, yaitu:

1st SESSION
General Lecture: Prof. Fire Tomohisa Wada , Vice President of IT Strategy  , University of The Ryukyus, Japan

Guest Speaker: CMI Teknologi*
Electronics Research Group: Trio Adiono, Ph.D
Moderator: Budi Rahardjo, Ph.D

2nd SESSION
Discussion Forum :
Peluang dan Tantangan Bidang Profesi Elektronika dalam Memperkuat Daya Saing Industri  ICT, Consumer Goods, Transportasi, dan Pertahanan Keamanan
Moderator : Ir. Adi Indrayanto, M.Sc, Ph.D

3rd SESSION
Electronics Exhibition

Mengundang perwakilan dari:

 

  • PT.INTI*,
  • PT. PINDAD*,
  • PT.HARIFF*,
  • POLYTRON*,
  • PT. LEN, PT.
  • Cisco Systems*,
  • PT. CMI*,
  • PT. DI*,
  • PT. SMC Cerdas*,
  • PT. Tricada Intronik*.

pada Discussion Forum dan Electronics Exhibition.

*) masih menunggu konfirmasi

Acara ini  akan diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal    :    Selasa / 24 April 2012
Waktu    :  08.00 – 15.00 WIB
Tempat    :    Ruang Galeri dan Auditorium CC Timur

Contact Person    :  Rachmad Vidya WP , S.T.
rachavidyawp@gmail.com
+6285649049561

Registrasi      : Kirim email ke
rachavidyawp@gmail.com
Format
Subject     : Pendaftaran Open House KK Elektronika STEI ITB
Body     : Nama (NIM)

Perbedaan Teknik Elektronika dan Teknik Kendali

Berikut ini tulisan mengenai Perbedaan Teknik Elektronika dan Teknik Kendali oleh bapak Achmad Fuad Masud:

    
Pada struktur kurikulum 2008 perbedaan antara TEKNIK ELEKTRONIKA
dan TEKNIK KENDALI baru terlihat dengan jelas pada semester 6.
Pada semester 5 hanya 1 mata kuliah yang berbeda (lihat tabel berikut):
                          SEMESTER 5
     TEKNIK ELEKTRONIKA                TEKNIK KENDALI
     1. EL3092 PSD                     1. EL3092 PSD
     2. EL3192 Praktikum PSD           2. EL3192 Praktikum PSD
     3. EL3096 Sistem Mikroprosesor    3. EL3096 Sistem Mikroprosesor
     4. EL3020 Sistem Kendali          4. EL3020 Sistem Kendali
     5. EL3121 Prak Sistem Kendali     5. EL3021 Prak Sistem Kendali
     6. EL3040 Elektronika AMS         6. EL3041 Elektronika AMS
     7. ET3081 SISTEM KOMUNIKASI       7. EL30xx MK TEKNIK ELEKTRO

Barulah pada semester 6 perbedaan terlihat (lihat tabel berikut)
                          SEMESTER 6
     TEKNIK ELEKTRONIKA                TEKNIK KENDALI
     1. EL3041 Mikroelektronika        1. EL3022 Instrumentasi
               Frekuensi Radio                   Sistem Kendali
     2. EL3042 Divais Semikonduktor    2. EL3222 Prak Instrumentasi
                                                 Sistem Kendali
     3. EL3043 Struktur Prosesor       3. EL3097 Jaringan Komputer
               Digital                
     4. EL3044 Sistem Instrumentasi    4. EP3071 Mesin-Mesin Elektrik
     5. EL3046 Peranc. Sis. Embedded   5. EX3xxx Pilihan Non PS
     6. EL3246 Prakt. Perancangan      6. EL30xx Mk. TEKNIK ELEKTRO
               Sistem Embedded
     7. EXxxxx Pilihan Non PS          7. KUxxxx Pilihan Humaniora

Wassalam,
-Fuad-
Achmad Fuad Masud
p.s. Pada kenyataannya akibat peraturan bahwa core TEKNIK ELEKTRO
     adalah: 34 sks (semester 3 dan 4) + 10 sks (semester 7 & 8)
     maka pola pengambilan mk sem 5, 6, 7, 8 sangat cair (alias
     sangat beragam).

Arsitektur ARM vs PowerPC

Oleh: Ihsan Hariadi

Dari sebuah diskusi di mailing list:
Pertanyaan: “btw ARM kan advance RISC Machine tapi kenapa beda sama power PC? ada yang tahu?”

ihsan:
———
Konon perbedaan yang penting dari ARM vs PowerPC ada di arsitektur bagian Cache nya, selebihnya saya hanya bisa salin-dan-tempel di bawah ini

——( ihsan )———————————-

( ditulis oleh orang dari PYTEC GmbH .de yg pernah   kontak dgn salah seorang rekan di Indonesia  )

http://www.linuxfordevices.com/files/article081/Bauer.pdf

An important difference between the two processors is the cache architecture.

The PXA270 is based on an ARM core that uses a virtual cache architecture. In this architecture, the cache is located between the CPU and the MMU. This design has the advantage that on a cache hit the address does not need to be converted to a physical
address. But the disadvantage of this architecture is that when a thread switch occurs the cache needs to be flushed which imposes an additionally latency.

In contrast, the MPC5200 is equipped with an e300 core, where the cache is placed between the MMU and the memory (physical cache). In this design, the address translation has to take place before the cache access. This leads to a slower access time
on the cache because of the address translation but the cache contents is consistent in different threads, in such a way that the cache does not need to be flushed.

In addition, the PXA270 is equipped with 32k data and instruction cache while the MPC5200 only has 16k caches. In general, a bigger cache is an advantage because it increases the probability of cache hits. But when it comes to task switching, a bigger cache is a drawback because flushing the cache takes more time. Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca.

Roadmap Industri Semikonduktor China

Nemu naskah bab 2 dari sebuah buku kajian industri ME     ( terbitan tahun 2000-an? ), dengan judul: “China’Semiconductor Industry”

Salah satu penulisnya: David Hodges, penulis buku     ‘legendaris’: MOS Digital Integrated Circuit Designand Analysis (1980)

Saya tertarik dengan strategi/roadmap yg dipilih dan dilakukan Pemerintah China, dimulai tahun 1995, (not so long ago) utk membangun kemampuan China dalam IC Design dan Industri Wafer Fab dengan rencana sbb. :

==> Sasaran untuk dicapai pada tahun 2000

-> mendirikan 5 perusahaan wafer fab
-> mendirikan 20 buah IC Design Center

==> Peta Tahapan:

-> mulai dgn mass production teknologi 0.8 um
-> pilot-scale / trial production      0.5 um
-> Lab-scale Research & Development    0.35 um

==> Investasi: > $1.2 Bio
==> Mitra Teknologi: NEC

——-( ihsan )—————————————

< http://itri2.org/ttec/aemu/report/c2.pdf >

CHAPTER 2

——————————
CHINA’S SEMICONDUCTOR INDUSTRY
——————————

Michael Pecht, Weifeng Liu and David Hodges

Project 909
————

As a major part of China‘s Ninth FYP, to encourage
domestic IC production capability and to reduce
reliance on semiconductor imports, in 1995 China
launched its largest ever IC development project
in the Pudong New Area of Shanghai. W

With an investment of more than $1.2 billion, this
project is the largest project ever undertaken in
China’s electronics industry.

The Pudong Microelectronics Center enterprise is
just one piece of a larger project known as Project
909, sponsored by China’s Ministry of Electronics
Industries (MEI), which merged in 1998 with the
Ministry of Posts and Communications to become the
new Ministry of Information Industries).

The project calls for the establishment of five
major IC production companies and as many as 20
design and development centers by 2000 [Johnson
1999b]. Its primary targets in semiconductors are
to develop advanced 0.3 um chip technology in labs;
produce 0.5 um chips on a trial basis, and massproduce
less sophisticated 0.8 um chips, with a production goal
of 1.2 billion units in the year 2000 and gross sales
reaching 10 billion yuan ($1.2 billion). Shanghai was
chosen as the site for the project because it had
become the center for microelectronics production in
China. I

In 1995, Shanghai plants accounted for 21 percent of
total Chinese production of semiconductors [Simon 1996].
Project 909 started with the development of an 8-inch
0.35 mm wafer manufacturing facility in a joint venture
between Huahong Group and NEC of Japan.

Production began in March 1999 and one year later reached
10,000 wafers per month. Output, primarily DRAM memory
chips, is exported back by NEC to Japan markets.

Plans for several other manufacturing facilities with
similar technological capability have not yet come to
fruition. The limitation has been unavailability of
large capital investments under terms that would maintain
a large degree of Chinese control.

The ultimate goal of Project 909 is to bring 0.35 um very
large-scale integrated circuit (VLSI) technology to bear
on telecommunication and computer-use ICs for both Chinese
and export markets.

Kerangka Kualifikasi Penjenjangan Sumber Daya Manusia

Berikut ini tulisan yang disarikan dari ulasan pak Ihsan Hariadi mengenai Peraturan Presiden no 8 2012 tentang: Kerangka Kualifikasi Penjenjangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia

Kerangka kualifikasi nasional indonesia

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

Peraturan Presiden no 8 2012 akan menjadi salah satu acuan penting  dalam merancang Kurikulum: S1, S2, dan S3 pada desain kurikulum 2013 yang akan datang. Belum terlalu jelas apakah akan berpengaruh juga ke PostDoc :)

Untuk sebagian dari kita yang terlibat dalam kegiatan pengembangan Teaching Factory ( tahap   awal baru di Politeknik, kemudian mungkin SMK,   dan kemudian mungkin juga S1), Perpres itu juga menjadi acuan sangat penting.

Saya baru sekilas membaca bunyi SK Presiden nya, hal yang saya rasa menarik adalah pembagian   kualifikasi SDM Indonesia menjadi 9 tingkat/   jenjang:   di mana ke 9 tingkat tsb dikelompokkan menjadi  3 ‘jabatan’ : mulai dari yang terbawah

 (1) Jabatan ‘Operator’ : mencakup jenjang 1, 2, dan 3

  • Jenjang 1 : setara lulusan SMP (?)
  • Jenjang 2 : setara lulusan SMA dan SMK
  • Jenjang 3 : setara lulusan D1

(2) Jabatan ‘Teknisi/Analis’ : mencakup jenjang 4, 5, 6

  • Jenjang 4 : setara lulusan D2
  • Jenjang 5 : setara lulusan D3
  • Jenjang 6 : setara lulusan D4 dan S1

(3) Jabatan ‘Ahli’       : mencakup jenjang 7, 8, 9

  • Jenjang 7 : Profesional: Dokter Umum?, Insinyur Madya (?)
  • Jenjang 8 : setara lulusan S2 atau Spesialis ( Dokter Spec.? )
  • Jenjang 9 : setara lulusan S3

— oOo —

Hal yang perlu dicatat, menurut tafsiran saya:

 

  • Barangkali adalah: lulusan S1 yang baru lulus ( fresh  graduate ) masih digolongkan dalam jenjang 6 : ‘Analis’  ( sama dengan D4 ). Baru setelah sarjana S1 tersebut  menempuh program sertifikasi ( contoh paling gampang,  lulusan IF/EL/dsb setelah mendapat sertifikasi Cisco ),  baru digolongkan setara dengan Jenjang 7 ( dokter umum,  insinyur madya? )
  • Contoh lain: saya belum tahu, apakah profesi seperti  Apoteker digolongkan dalam jenjang 7 (‘profesional’)  ataukan jenjang 8 (‘spesialis’)

- ihsan -

Referensi

Konsep Teaching Industry / Factory

Konsep Teaching Industry/Factory bukanlah suatu “Industri Pendidikan”, melainkan suatu industri yang dipakai untuk proses pendidikan. Sama dengan konsep “Teaching Hospital”, “Rumah Sakit Pendidikan”. Sebuah Rumah Sakit yang beroperasi layaknya seperti rumah sakit, tapi dimiliki oleh Perguruan Tinggi dan digunakan juga untuk mendidik calon dokter.

Ada beda antara RS Umum dengan RS Pendidikan. Kalau di RS Umum semua pasien apapun penyakitnya baik yang mudah maupun yang susah diterima. Hanya ditentukan dari daya tampung saja.  Kalau RS Pendidikan, ada keterbatasan dalam menerima jumlah pasien. Penyakit yang unik dan sulit malah diterima karena juga perlu dilakukan “riset”, penyakit yang mudah-mudah dirujuk ke RS Umum.

Kenapa bidang kedokteran boleh mendapatkan fasilitas utk “melatih calon sarjananya praktek”, sedangkan di ITB yang bergerak bidang engineering tidak dapat?

Teaching Factory/Industry berbeda juga dengan Laboratorium. Kalau Laboratorium sudah jelas, fungsinya kalau bukan untuk pendidikan dasar, tentunya adalah utk penelitian dasar. Namun laboratorium dasar seperti ini kurang lengkap untuk mengajarkan calon engineer. Sebagai contoh bagaimana seorang calon engineer harus melatih diri dalam membuat produk atau belajar mengoperasikan sebuah instalasi berteknologi tinggi? Hal-hal rumit seperti ini tidak dapat dilakukan di laboratorium biasa.

Salah satu alternatif untuk belajar para mahasiswa adalah dengan menumpang ke industri swasta. Namun mana mau mereka fasilitasnya dipakai untuk pendidikan? Paling jauh adalah sekedar magang dengan jumlah yang terbatas. Nah, bagaimana kita mendidik calon engineer kita agar bisa menjadi engineer “beneran”?  Saat ini paling numpang di perusahaan dosen2 nya …. yg milik pribadi

Ide tulisan dari bapak Adi Indrayanto, staf pengajar di STEI -  ITB (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung)

Editor: Waskita Adijarto staf pengajar di STEI -  ITB (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung)

Pentingnya Teaching Factory di Perguruan Tinggi Teknik

Dosen di sebuah perguruan tinggi teknik adalah para engineer (insinyur) yang tugasnya adalah mengajari calon insinyur juga, bukan calon dosen (saja) atau guru (saja) . Agar seorang dosen dapat mengajari calon insinyur, para dosen juga musti lengkap menjadi insinyur, bukan hanya guru (pengajar).  Jadi musti bisa seimbang antara kehidupan profesional (di bidang engineering) dan mengajar.

Sebagai analogi kita dapat bandingkan dengan sekolah dokter (fakultas kedokteran). Bayangkan seandainya dosen-dosen kedokteran itu kerjanya full mengajar saja di kampus, tidak pernah praktek di rumah sakit. Apa kira-kira saat kita
mau dibedah otaknya, kita berikan ke dokter-dokter dosen yang pengalamannya hanya mengajar ya?  Saya sih nggak mau … hehehe…

Idealnya, di setiap kampus teknologi itu punya yg namanya “teaching industry” atau “teaching factory” agar para dosen nya itu punya pengalaman menjadi “real engineer”, jadi tidak dikatakan sekedar “mroyek” (mengerjakan proyek juga sebenarnya tidak apa selama relevan dengan keahliannya).

Mahasiswa calon insinyur mustinya di tingkat2 akhir ikut terlibat sebagai co-assisten dalam mengerjakan pekerjaan ke insinyur an. Mereka harus belajar dari awal bagaimana bekerja sebagai insinyur. Nah, utk itu dosen2 nya juga harus menjadi “real engineer”.  Baru Indonesia bisa maju dunia iptek dan industrinya.

Saat ini, kita menuju yg namanya keahlian “sastra engineering”, dengan keluaran utama paper/makalah, yang tidak berakhir ke produk.

Sebagai sebuah negara berkembang yang hanya memproduksi paper, tidak heran kita mengimpor semua keperluan kita

Ide tulisan dari bapak Adi Indrayanto, staf pengajar di STEI -  ITB (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung)

Editor: Waskita Adijarto

 

Jangan Kuatir Dengan China

Ada penulis barat yang menyanggah kekhawatiran mengenai ‘keperkasaan’/dominasi  China sebagai    pemasok/pusat industri manufaktur dunia.

Sanggahan tsb menggunakan ‘argumentasi sejarah’:

  • setelah Revolusi Industri ( 1780 ) an,       banyak orang mengkhawatirkan, Inggris akan        mendominasi industri dunia, karena sudah        ‘mencuri start dalam pengembangan teknologi        mekanisasi’
  • Apalagi dengan dominant nya Inggris dalam      menguasai dearah-daerah koloni sebagai pusat       pasokan bahan baku, serta sebagai pasar produk industri nya.
  • kekhawatiran di atas tidak terbukti, negara=2 Eropa yg lain dgn cepat mengimbangi Inggris di dalam inovasi teknologi Industri ( mesin uap dan lokomotif memang dipelopori oleh Inggris tapi Teknologi Otomotif dipelopori oleh Jerman )
  • Kemudian Amerika pun muncul sebagai kekuatan Industri berikutnya ( dimulai dari industri mobil Ford di tahun 1920 ), dan industri militer ( dan industri tricle down nya ) sejak PD-II.
  • Jepang kemudian muncul sbg kekuatan Industri baru, utamanya di hidang Elektronika dan Otomotif ( dimulai tahun 1970-an, dan mencapai puncaknya di tahun 1980-an )
  • Tahun 1990 an Korea muncul menyaingi Jepang di kedua       sektor industri di atas ( Elektronika dan Otomotif ):       Samsung, Daewoo, Hyundai, etc etc …
  • Tahun 2000 an China dengan perlahan dan pasti mulai       meneguhkan posisinya sebagai negara industri manufaktur       kelas dunia …

Berarti … Setelah ‘Era China’ lewat, akankah berarti muncul kekuatan-kekuatan yang lain?
***
Yang di atas itu hanya argumentasi analogi historis yang   hasilnya sulit diprediksikan dari awal … paling-paling   menggunakan buku-2 Primbon Ramalan Joyoboyu, John Naisbitt, dsb

***

Argumentasi yang menurut saya lebih rasional untuk ‘menghibur’ agar negara-2 lain tidak perlu terlalu kecil hati dengan  bayangan dominasi China ( “yang menciptakan langit dan bumi memang Tuhan, tetapi     semua barang manufaktur yang meramaikan bumi, ….      adalah buatan China … :-) ) “)

adalah argumentasi Demografis. Why?

Mesin ekonomi, terutama jika mengandalkan Industri Manufaktur
sangat bergantung pada tenaga kerja. Nah, banyak orang tidak
menyadari, bahwa lambat laun China juga akan dibuat pusing
untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya. Mengapa?

banyak orang hanya membayangkan ‘keperkasaan’ bangsa China
dihitung dari ‘jumlah absolut’ penduduknya yang mencapai
1 milyard lebih, … banyak yang melupakan sisi struktur
demografis dari 1 milyar penduduk ini. Pertanyaannya adalah

==> berapa sebenarnya prosentase ‘usia produktif’ dari 1
milyar penduduk ini?

Sebagaimana banyak di alami negara-2 industri lainnya, China
juga mengalami masalah penuaan susunan penduduk ( population
aging ) karena 2 hal:

  • Angka kelahiran yang rendah ( kurang dari 2 / Ibu )  Ini diperparah oleh kebijakan pemerintah China membatasi       jumlah anak: 1 anak / keluarga di China sejak 1979
  • Angka rata-2 harapan hidup yang semakin tinggi  artinya, jumlah penduduk Manula ( > 65 tahun ) di China  akan semakin besar prosentasenya dibandingkan dengan jumlah  penduduk usia kerja / usia produktif …

Angka-angka hasil kajian demografis menunjukkan:

  • jumlah penduduk China akan mencapai puncaknya di tahun 2030      ( mencapai angka sekitar 1.5 milyar )
  • komposisi penduduk usia kerja vs usia Manula mencapai      kondisi paling ideal / maksimum di tahun 2010 ( setahun      yang lalu ), sejak itu prosentase usia Manula di China akan semakin tinggi, monotonically thd jumlah penduduk usia produktif

Di bawah ini saya sertakan gambar-2 grafik trend demografi  China, saya ambil dari kertas kerja yang ditulis oleh sebuah regu peneliti Universitas Hardvard  http://www.hsph.harvard.edu/pgda/WorkingPapers/2010/PGDA_WP_53.pdf

— oOo —
Di samping itu banyak hal-hal lain yang merupakan ‘bom waktu’  yang bisa menurunkan daya saing industri China di masa depan:

-> trend ‘demokratisasi’ serta naik nya taraf hidup penduduk
China akan menyebabkan naik nya upah buruh di China

( saat ini pusat-2 industri di daerah pesisir: Shanghai,
Shenzen, sudah sulit dikembangkan karena langka dan mahal
nya tenaga kerja; China terpaksa membuka sentra-2 industri
baru di dareah yg lebih ke ‘pedalaman/hinterland’ ini akan
bisa menyebabkan naik nya beaya logistik ).

-> ketergantungan China pada bahan mentah dan energi dari luar
( benar bahwa China juga mengunci beberapa bahan baku yg
sangat khusus spt yg untuk bahan magnet : rare earth elements
dsb ). Tapi untuk bahan-2 yang lebuh sederhana: spt Gas
Alam, Kayu, dsb China jelas kekurangan )

SO, please don’t worry about China, be happy :-) )

- ihsan -

Artikel ini ditulis oleh Ihsan Hariadi, staf dosen STEI-ITB dan diedit oleh Waskita Adijarto, staf dosen STEI-ITB.